Copa America 2019 - Cile vs Peru: Kejutan, La Blanquirroja Tantang Brasil Di Final




Kemenangan 3-0 berkat gol-gol Edison Flores dan Yoshimar Yotun di babak pertama plus aksi kapten Paolo Guerrero pada injury time memastikan Peru berjumpa kembali tuan rumah Brasil di partai puncak. Sebelumnya Brasil mencukur Peru lima gol tanpa balas di fase grup.
Keberhasilan ini menandai kelolosan La Blanquirroja ke final Piala Amerika untuk pertama kalinya setelah 44 tahun atau hampir setengah abad!


Kendati memasuki laga sebagai underdog, Peru terbukti tidak gentar menghadapi Cile yang berstatus kampiun dua turnamen terakhir. Pendekatan berani tim asuhan Ricardo Gareca menampakkan hasil di menit ke-21.
Berawal dari umpan silang Christian Cueva dari sisi kanan, Andre Carrillo meneruskan bola dengan kepalanya ke arah Flores. Nama terakhir ini tidak membuang kesempatan emas untuk membawa Peru memecahkan kebuntuan.

Berselang 18 menit, Peru menggandakan keunggulan lewat "bantuan" kiper Cile Gabriel Arias, yang terlalu gegabah keluar dari sarangnya guna mencoba menghalau sebuah bola lambung.
Arias kalah cepat dari Carrillo, yang berhasil mengambil bola sebelum mengirimkan umpan silang kepada Yotun. Gelandang Cruz Azul ini melakukan kontrol dan melepas tembakan voli ke gawang kosong.
Tertinggal dua gol, Cile semakin meningkatkan intensitas serangan sehabis turun minum. Namun, dewi fortuna menjauhi La Roja saat peluang bagus lewat tandukan Eduardo Vargas dimentahkan tiang.
Terlalu bernafsu mengejar ketertinggalan, kans Cile akhirnya kandas setelah Guerrero menceploskan gol ketiga Peru menginjak menit pertama waktu tambahan. Penyerang gaek 35 tahun itu lolos dari perangkap off-side untuk menerima umpan matang Renato Tapia, kemudian dengan dingin melewati sergapan Arias dan menceploskan si kulit bulat.
Kekalahan memalukan Cile diperparah kegagalan penalti Vargas pada detik-detik penghabisan. Lewat bantuan VAR, wasit menunjuk titik putih atas pelanggaran keras Luis Abram pada Charles Aranguiz . Vargas mencoba menaklukkan kiper Pedro Gallese dengan tendangan Panenka, tetapi eksekusinya terbaca sehingga bisa ditangkap dengan mudah.